Welcome Meet the Great Education and Art - Let Us Doing Good and Truth Degrees For Lifting People * Dipersembahkan oleh STRINGTONE project *

5/20/2012

DIALEKTIKA


                                                                  
1.    Pengertian dan sejarah singkat
Dialektika pertama-tama merupakan suatu struktur atau metode filsafat yang berkembang melalui pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban. Pada zaman Yunani kuno, struktur filsafat semacam ini digunakan dalam karya-karya Platon. Dialektika platonisian merupakan suatu proses pemurnian ide lewat dialog-dialog yang bertujuan memperoleh definisi tentang sesuatu.
Dalam perkembangan selanjutnya, pada Abad Pertengahan, struktur dialektika digunakan dalam Logika berupa silogisme-silogisme. Anselmus dari Canterbury, misalnya, melakukan pembuktian akan adanya Allah dengan argumen ontologis dalam karyanya Proslogion.
Pada zaman modern, Kant menunjukkan bagaimana pengetahuan selalu memuat sisi-sisi kontradiktif, dan karenanya juga selalu merupakan sintesis antara unsur-unsur a priori dalam keaktifan akal budi dan unsur-unsur a posteriori dalam pengalaman inderawi. Pemikiran inilah yang mendamaikan rasionalisme yang dirintis oleh Descartes dengan empirisme yang dirintis oleh Bacon dan Hobbes yang kemudian dikembangkan oleh Locke, Hume, dan Berkeley.
Hegel bisa disebut tokoh terpenting dalam dialektika. Dia menunjukkan bagaimana semua logika bahkan sejarah dunia mengikuti suatu struktur dialektis di mana kontradiksi-kontradiksi sebelumnya “disimpan”, “ditiadakan”, sekaligus “diangkat” (aufheben) menuju suatu kebenaran yang lebih tinggi, dan akhirnya menyeluruh, absolut.

2.    Dialektika Hegelian
 Yang khas bagi filsafat Hegel adalah ciri proses[i]. Hal ini juga berarti bahwa menurut Hegel, kebenaran itu selalu menyeluruh, tidak pernah hanya partikular saja. Untuk mencapai kebenaran itu, Hegel menggunakan logika kontradiktif dan bukan logika non-kontradiktif atau prinsip identitas yang lebih “populer”.
Prinsip identitas atau logika non-kontradiktif menyatakan bahwa “A” adalah “A”, dan bukan “non-A”. Yang disebut “A” sama sekali tidak berhubungan dengan “non-A”; “A” sama sekali terisolir dari “non-A”. Sementara itu, logika kontradiktif menyatakan bahwa “A” itu “ada”, diketahui, juga karena “non-A”. Yang disebut “A” tidak pernah berdiri sendiri. “A” selalu berhubungan dengan “non-A”. Demikianlah dapat dimengerti bahwa prinsip identitas atau logika non-kontradiktif itu hanya bisa mencapai pengetahuan yang partikular saja, hal mana merupakan sesuatu yang “belum” benar menurut Hegel, sementara logika kontradiktif dapat mencapai kebenaran yang menyeluruh karena semua saling terkait dalam hubungan pembenaran dan penyangkalan.
Dalam arti inilah dialektika berarti: sesuatu itu hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungannya, dan hubungan ini berupa negasi. Hanya melalui negasi kita bisa maju, kita dapat mencapai keutuhan, kita dapat menemukan diri sendiri.[ii] Hal ini tidak berarti bahwa yang disangkal, di-negasi itu sepenuhnya salah. Negasi atau penyangkalan dialektis tidak sekedar meniadakan, melainkan kebenaran yang disangkal itu tetap dipertahankan[iii]. Yang di-negasi itu aufheben, berarti disimpan, ditiadakan, sekaligus diangkat ke kebenaran yang lebih tinggi. Hal ini memperlihatkan struktur dialektika Hegel, yaitu tesis-antitesis[iv].

3.    Materialisme dialektis
Materialisme dialektis adalah istilah yang diberikan pada filsafat Marx oleh para pendukungnya di Uni Soviet[v]. Materialisme dialektis berusaha “mendamaikan”, “membuat dialog” antara materialisme dan idealisme, meskipun tekanan tetap diberikan pada materialisme. Materialisme mengacu pada pemikiran Feuerbach dan Marx yang menyatakan bahwa yang sungguh nyata adalah materi, dan bukan kesadaran.
Sementara itu, idealisme menyatakan yang sebaliknya, yaitu bahwa tidak ada apapun (materi) tanpa kesadaran. Kant, Fichte, Schelling, dan Hegel termasuk kaum idealis meskipun juga tidak sepenuhnya meniadakan peran materi[vi]. Materialisme dialektis berusaha mengenakan materialisme pada dialektika Hegel. Oleh karena itu, menurut materialisme dialektis, pertanyaan mendasar filsafat adalah: “Mana yang lebih penting: materi atau kesadaran?”[vii] Materialisme dialektis tetap berpendapat bahwa materi lebih penting, namun dengan cara yang berbeda dengan materialisme abad 18 yang menyatakan bahwa tidak ada perbedaan hakiki antara mesin dan makhluk hidup. Tokoh materialisme dialektis yang patut dicatat adalah K. Marx dan F. Engels.
Pertama-tama materialisme dialektis mengakui kebenaran penelitian-penelitian empiris tentang pikiran[viii]. Tidaklah sulit untuk memahami bagaimana seorang materialis menyetujui penelitian-penelitian empiris tentang otak, misalnya, untuk mendukung pendapatnya bahwa yang ada hanyalah materi. “Pikiran” menurut seorang materialis adalah rangkaian materi-materi, entah itu syaraf, darah, otot, sel-sel otak dan sebagainya, yang bekerja sedemikian rupa sehingga “hidup” dan “berpikir”, sebagaimana sebuah komputer adalah rangkaian VGA card, processor, RAM, power supply, dll., yang hidup dan bekerja. Namun seorang materialis dialektis tidak puas dengan materialisme sedemikian itu.
Penelitian-penelitian empiris tentu menghasilkan teori-teori. Nah, di samping mengakui kebenaran penelitian empriris, seorang materialis dialektis juga berpendapat bahwa di lain sisi, pikiran manusia tidak lagi membutuhkan apapun selain teori-teori yang dihasilkan oleh penelitian-penelitian empiris itu sebagai syarat pengetahuan, syarat “kesadaran”.[ix] Di sinilah seorang materialis dialektis memberi ruang pada idealisme, namun juga sekaligus menutup ruang baginya.
Materialisme dialektis memberi ruang pada idealisme dengan menyatakan bahwa pikiran manusia itu “ada” (meskipun dengan tidak membutuhkan apapun selain teori-teori penelitan empiris). Dengan demikian, materialisme dialektis mengakui adanya subjek; suatu aku-yang-sedang-berpikir. Namun di lain sisi materialisme dialektis juga menutup ruang bagi idealisme dengan menyatakan bahwa pikiran tidak membutuhkan apa-apa lagi selain teori-teori yang dihasilkan oleh penelitian empiris sebagai syarat pengetahuan atau “kesadaran”. Teori-teori itu sudah cukup bagi pikiran manusia sebagai syarat “kesadaran” dan dengan inilah idealisme disangkal. Pikiran atau “kesadaran” adalah rangkaian teori-teori yang dihasilkan penelitian empiris.
Selain itu, materialisme dialektis juga menjelaskan hubungan antara pikiran dan materi. Hubungan itu adalah bahwa pikiran adalah bayangan, gambaran dari materi; dunia kesadaran adalah dunia materi yang “diterjemahkan ke dalam bentuk-bentuk pikiran”. Demikianlah pikiran diberi bentuk-bentuk tertentu yang memungkinkan hubungan antara satu pikiran dengan pikiran yang lain. Di sinilah terjadi dialektika.[x] Pikiran-pikiran yang merupakan gambaran dari materi itu berdialektika sedemikian rupa sehingga membentuk “kesadaran”, pengetahuan.
Dengan demikian materialisme dialektis semakin menutup ruang bagi idealisme. Kesadaran, yang menurut idealisme merupakan hal yang penting, disangkal oleh materialisme dialektis hanya sebagai gambaran, bayangan materi saja. Demikianlah materialisme dialektis tetap berpendapat bahwa bukan kesadaran yang memberi bentuk kepada materi, melainkan materi-lah yang membentuk “kesadaran” melalui proses dialektika.
Sebagai implikasi lebih lanjut, materialisme dialektis juga memberikan kritik terhadap materialisme metafisis. Materialisme metafisis mengabaikan materi yang berkembang secara alamiah, mencoba mereduksi semua perubahan hanya pada perubahan kuantitatif saja, dan gagal menyelidiki kontradiksi-kontradiksi internal yang ada dalam kondisi alami materi sebagai sumber mendasar perubahan.[xi] Tentang hal ini dapat dinyatakan tiga “logika” materialisme dialektis:
a.      Kesatuan dalam pertentangan. Segala sesuatu memuat prinsip kontradiksi.
b.      Kuantitas dan kualitas. Perubahan kuantitatif dapat menyebabkan perubahan kualitatif juga.
c.       Negasi atas negasi. Perubahan adalah berarti menyangkal sesuatu yang berubah, dan hasilnya disangkal lagi, namun bukannya kembali lagi pada kondisi semula.

Materialisme dialektis tentu saja belum mencapai tujuannya karena merupakan filsafat “resmi” Uni Soviet yang ditandai oleh kekuasaan otoriter, tekanan-tekanan politis, dan ketakutan. Tidak bisa dibayangkan bagaimana materialisme dialektis yang kritis bisa berkembang dalam situasi macam itu.
Oleh karena itu, materialisme dialektis masih memiliki tugas pada masa sekarang yaitu mencerahkan dunia dengan mencari dasar metafisika ilmiahnya dan mengatasi tantangan-tantangan ilmiah yang belum berhasil diatasi.[xii]


[i] Franz Magnis-Suseno, Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme (Jakarta: Gramedia, 2005), hlm. 60.
[ii] Magnis, Marx, hlm. 61.
[iii] Magnis, Marx, hlm. 62.
[iv] Banyak yang menyebut struktur dialektika Hegel triadik: tesis-antitesis-sintesis, sementara Hegel sendiri tidak pernah menggunakan istilah itu.
[v] Ted Honderich (ed.), The Oxford Companion to Philosophy (New York: Oxford University Press, 1995), hlm. 198.
[vi] Kant, misalnya, tetap menyatakan bahwa benda-pada-dirinya-sendiri, das ding an sich (the thing in itself), itu tetap ada meskipun tidak dapat diselidiki dan Schelling dengan pemikiran idealisme objektifnya.
[vii] Honderich, Philosophy, hlm. 198.
[viii] Honderich, Philosophy, hlm. 198.
[ix] Honderich, Philosophy, hlm. 198.
[x] Honderich, Philosophy, hlm. 198.
[xi] Honderich, Philosophy, hlm. 199.
[xii] Honderich, Philosophy, hlm. 199.



DAFTAR PUSTAKA

Honderich, Ted (ed.). The Oxford Companion to Philosophy. New York: Oxford University Press. 1995.

Magnis-Suseno, Franz. Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia. 2005.