Welcome Meet the Great Education and Art - Let Us Doing Good and Truth Degrees For Lifting People * Dipersembahkan oleh STRINGTONE project *

5/13/2012

MAZHAB-MAZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN


1        Esensialisme
Mazhab ini diberi label demikian karena upayanya dalam mena-  namkan pada para siswa apa yang menjadi esensi dari ilmu pengetahuan dan pembangunan karakter siswa. Paham ini populer pada tahun 1930an dengan pelopornya William Bagley (1874-1946). Pada awal abad ke-20 paham ini dikritik sebagai paham kaku untuk mempersiapkan siswa memasuki dunia dewasa. Namun dengan suksesnya Uni Soviet dalam meluncurkan Sputnik pada tahun 1957, minat pada paham ini kembali hidup. Pada tahun 1983 The President's Commission on Excellence in Education di AS menerbitkan laporan, A Nation at Risk, yang memperlihatkan kepedulian penganut paham esensialis.
Filsafat ini berdasarkan filsafat konservatif bahwasanya sekolah itu tidak dapat mengubah masyarakat secara radikal. Sekolah seharusnya mengajarkan nilai-nilai moral tradisional dan pengetahuan agar siswa kelak menjadi warga negara teladan. Ajaran yang mesti diberikan kepada siswa antara lain hormat kepada kekuasaan, ketabahan, taat menjalankan kewajiban, tenggang rasa kepada orang lain, dan menguasai hal-hal praktis. Sejalan dengan filsafat ini, pendidikan hendaknya menekankan pemahaman dunia lewat percobaan saintifik dan penguasaan ilmu-ilmu alamiah daripada ilmu ilmu seperti filsafat atau agama. Mata pelajaran tradisional yang lazim dianggap penting antara lain matematika, IPA, sejarah, bahasa asing dan kesusastraan.

2        Perrenialisme
Aliran ini mengikuti paham realisme, yang sejalan dengan Aristoteles bahwa manusia itu rasional. Sekolah adalah lembaga yang didesain untuk menumbuhkan kecerdasan. Siswa seyogianya diajari gagasan besar agar mencintainya, sehingga mereka menjadi intelektual sejati. Akar filsafat ini tentunya datang dari gagasan besar Plato dan Aristoteles dan kemudian dari St. Thomas Aquinas yang sangat berpengaruh pada model-model sekolah Katolik. Lazimnya ada dikenal dua aliran besar yaitu aliran Thomas Aquinas dan kemudian abad ke 20 aliran Mortimer Adler dan Robert Hutchins. Seperti halnya filsafat esensialisme, aliran ini pun kurang fleksibel dalam mengembangkan kurikulum. Kaum perrenialis mendasarkan teorinya pada pandangan universal bahwa semua manusia memiliki sifat esensial sebagai makhluk rasional, jadi tidaklah baik menggiring dan mencocok hidung mereka ke penguasaan keterampilan vokasional. Ini semua berpotensi mengganggu perkembangan rasionalnya. Berbeda dari aliran esensialis, eksperimen saintifik dianggap mengurangi pentingnya kapasitas manusia untuk berpikir. Pelajaran filsafat dengan demikian menjadi penting, agar siswa mampu berpikir mendalam, analitik, fleksibel, dan penuh imajinatif.
Dengan cara inilah pendidikan akan memenuhi fungsi humanistiknya, yakni pembelajaran secara umum yang mesti dimiliki manusia. Ada empat prinsip dari aliran ini: (1) kebenaran bersifat universal dan tidak tergantung pada tempat,  waktu, dan orang; (2) pendidikan yang baik melibatkan pencarian pemahaman atas kebenaran; (3) kebenaran dapat ditemukan dalam karya-karya agung; dan (4) pendidikan adalah kegiatan liberal untuk mengembangkan nalar.

3        Progresivisme
Aliran ini lengket dengan nama besar John Dewey (1859-1952) yang mengembangkan Sekolah Laboratorium di Chicago. Aliran ini menghormati perorangan, sains, dan menerima perubahan sesuai dengan perkembangan. Aliran ini menstimulasi sekolah untuk mengembangkan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat siswa. Pengaruh Dewey terasa sekali pada era 1950an saat Soviet berhasil meluncurkan Sputnik. Sekolah-sekolah menekankan matematika, sains, Bahasa asing, dan mata-mata pelajaran yang terkait dengan pertahanan. Filsafat yang dianut Dewey adalah bahwa dunia  fisik itu real dan perubahan itu bukan sesuatu yang tak dapat diren' canakan. Perubahan dapat diarahkan oleh kepandaian manusia. Sekolah mesti membuat siswa sebagai warga negara yang lebih demokratik, berpikir bebas dan cerdas. Bagi Dewey ilmu pengetahuan itu dapat diperoleh dan dikembangkan dengan mengaplikasikan pengalaman, lalu dipakai untuk menyelesaikan persoalan baru.
Proses belajar mengajar di kelas ditandai dengan beberapa hal, antara lain:
·         Guru merencanakan pelajaran yang membangkitkan minat dan rasa ingin tabu siswa.
·         Selain membaca buku siswa juga diharuskan berinteraksi dengan alam misalnya melalui kerja lapangan atau lintas alam.
·         Guru membangkitkan minat siswa melalui permainan yang menantang siswa untuk berpikir.
·         Siswa didorong untuk berinteraksi dengan sesamanya untuk membangun pemahaman sosial.
·         Kurikulum menekankan studi alami dan siswa dipajankan (exposed) terhadap perkembangan baru dalam saintifik dan sosial;
            dan
·         Pendidikan sebagai proses yang terus menerus memperkaya siswa untuk tumbuh, bukan sekadar menyiapkan siswa untuk kehidupan dewasa.
Para pendidik aliran ini sangat menentang praktik sekolah tradisional, khususnya dalam lima hal: (1) guru yang otoriter, (2) terlampau mengandalkan metode berbasis buku teks, (3) pembelajaran pasif dengan mengingat fakta, (4) filsafat empat tembok, yakni terisolasinya pendidikan dari kehidupan nyata, dan (5) penggunaan rasa takut atau hukuman badan sebagai alat untuk menanamkan disiplin pada siswa.

4        Eksistensialisme
Gerakan eksistensialis dalam pendidikan berangkat dari aliran filsafat yang menamakan dirinya eksistensialisme, yang para tokohnya antara lain Kierkegaard (1813-1815), Nietzsche (1811-1900), yang mengatakan bahwa Tuhan telah mati, dan Jean Paul Sartre, yang mengatakan,  "Man is nothing else but what he makes of himself." Inti ajaran filsafat  ini adalah respek terhadap individu yang unik pada setiap orang. Eksistensi mendahului esensi.
Dalam kelas guru berperan sebagai fasilitator untuk membiarkan siswa berkembang menjadi dirinya dengan memberikan berbagai bentuk pajanan (exposure) dan jalan untuk dilalui. Karena perasaan tidak terlepas dari nalar, maka kaum eksistensialis menganjurkan pendidikan sebagai cara membentuk manusia secara utuh, bukan hanya sebagai pembangunan nalar. Sejalan dengan tujuan itu, kurikulum menjadi fleksibel dengan menyajikan sejumlah pilihan untuk dipilih siswa. Dapat ditebak bahwa pelajaran-pelajaran humaniora akan mendapat penekanan relatif besar. Kelas mesti kaya dengan materi ajar yang memungkinkan siswa melakukan ekspresi diri, antara lain dalam bentuk karya sastra film, dan drama.

5        Rekonstruksi
Aliran rekonstruksi atau social reconstruction memiliki akar-akar filsafat eksistensialisme, namun terutama berlandaskan pada pemikiran aliran progresif. Persamaan antara dua aliran filsafat ini adalah bahwa segala sesuatu di dunia ini bersifat relatif dan semua manusia mengelola dunia ini untuk memahaminya dan mengubahnya. Bila aliran perenialis menekankan penyampaian pengetahuan ihwal kultur yang ada dan mapan dan aliran progresif menekankan pentingnya evaluasi terhadap kultur yang ada, maka aliran rekonstruksi menginginkan transfoi masi kultur yang ada itu berdasarkan analisis terhadap ketidakadilan dan kesalahan-kesalahan mendasar dalam praktik-praktik pendidikan selama ini.
Guru dengan demikian memiliki peran penting dalam mengubah kebudayaan. Tokoh-tokoh besar aliran ini antara lain George Counts, Theodore Brameld, Ivan Illich, dan Paulo Freire. Dalam bukunya Education for the Emerging Age (1950) Brameld menyarankan bahwa tujuan pendidikan bukan untuk memperoleh kredit atau sekadar pengetahuan, tetapi memberi manusia apapun rasnya, kepercayaannya, dan kehidupaan yang lebih memuaskan dirinya dan masyarakatnya. Pengetahuan, pelatihan, dan keterampilan adalah alat untuk mencapai tujuan ini, yakni realisasi diri.
Jadi kontribusi pemikiran aliran ini bukan untuk menghapus sekolah tetapi untuk melonggarkan pelembagaan (deinstitutionalize) pengalaman pendidikan di sekolah, agar siswa mampu mentransformasi kultur yang ada. Illich melihat keterkaitan bahasa dengan kekuasaan.

6        Pedagogis kritis
Kata kunci dari aliran ini adalah critical. Dalam filsafat kontemporer ada dikenal critical theory seperti yang digagas oleh mazhab Frankfurt. Seperti diungkap Geuss, target yang ingin dicapai oleh teori ini adalah:
... at emancipation and enlightment, at making agents aware of
hidden coercion and putting them in a position to determine where
their true interest lie (1981: 55)
Dengan kata lain, teori ini bernafsu untuk mengidentifikasi minat dan motivasi politik sosial dari sebuah dominasi kekuasaan (ilmu pengetahuan dan kebudayaan secara umum). Maksudnya adalah demi emansipasi dan pencerahan. Bila diaplikasikan dalam bidang pendidikan maka teori kritis ini memunculkan pendekatan critical pedagogy, dan salah satu dari pelopornya adalah Henry Giroux. Pendekatan ini antara lain menekankan pentingnya memberdayakan dan mendidik siswa agar mampu memecahkan masalah dan mampu berpikir kritis. Dengan mengikuti aliran ini, pendidik sexing disebut sebagai critical educator yang secara kritis mempertanyakan kultur yang sudah mapan atau dominan dan menjadikannya sebagai objek analisis politik.
Dari pencermatan atas kutipan di atas, dapat ditarik sejumlah tafsir sebagai berikut:
  • Teori kritis memiliki kepedulian tinggi terhadap ketidakadilan sosial sebagaimana tercermin dalam sistem pendidikan atau persekolahan.
  •  Di balik ilmu pengetahuan yang dipelajari di sekolah dan kebudayaan yang dominan dalam sistem persekolahan sesungguhnya ada minat dan vested interest dan kelompok tertentu.
  • Di balik sistem persekolahan itu ada ideologi yang mendominasi yang harus dicermati dengan kritis dengan mengkaji sejumlah ideologi alternatif.
  • Untuk keperluan analisisnya yang radikal ini, maka pendidik harus memiliki kemampuan antara lain sebagai berikut.
  • Untuk menganalisis sistem yang ada secara politis, diperlukan penguasaan bahasa kritis demi pemahaman yang sempurna.
  • Untuk memhami kultur yang mendominasi sistem persekolahan, diperlukan pemahaman atas suara ideologis dari tiga kelompok besar, yaitu pihak sekolah, siswa, dan guru.
  • Untuk menantang wilayah pengetahuan yang dominan saat ini, diperlukan keberanian untuk membangun pengetahuan Baru.


  
   ANALISIS

Esensialisme adalah pendidikan yang di dasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman Renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaannya yang utama ialah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, di mana serta terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas.
Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme berasal dari kata perennial yang berarti abadi, kekal atau selalu. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru.
Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progresivisme dalam semua realita, terutama dalam kehidupan adalah tetap survive terhadap semua tantangan hidup manusia, harus praktis dalam melihat segala sesuatu dari segi keagungannya.
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yg pahamnya berpusat pada manusia individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan sesuatu yang menurutnya benar.


DAFTAR PUSTAKA
Surisumantri, Jujun S. 2005. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan
Kalidjernih, Freddy. 2010. Penulisan Akademik. Bandung. Widya Aksara Press.
Zubair, A.C. 1990. Kuliah Etika. Jakarta: Rajawali Press