Welcome Meet the Great Education and Art - Let Us Doing Good and Truth Degrees For Lifting People * Dipersembahkan oleh STRINGTONE project *

2/05/2012

LANDASAN DAN RASIONAL PKn DI BERBAGAI NEGARA DAN INDONESIA


Oleh :
Iwan Sukma Nuricht

            Di Inggris (UK) kerangka dasar kurikulum dan beban belajar education for citizenship untuk pendidikan dasar dan menengah dilandasi dengan prinsip Non-Statutory atau tidak digariskan sebagai hal yang wajib dan diberikan dalam bentuk pembelajaran yang diorganisasikan secara cross-curricular atau lintas mata pelajaran yang sepenuhnya menjadi kewenangan sekolah.
            Di Jepang PKn bertujuan mempersiapkan setiap individu untuk dapat terlibat secara aktif dalam masyarakat, dan menggunakan budaya umum dalam setiap hal. Penekanan PKn telah diubah dari mengutamakan pengetahuan umum tentang bangsa Jepang kepada kemampuan untuk membangun masyarakat. PKn Jepang sebagian besar diterapkan sebagai “kewarganegaraan (civics)”  dalam sekolah tingkat atas dan sebagai “studi social” dalam sekolah menengah
Di Kanada kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran Social studies and also history, law, political sciences, and economics yang memuat misi pendidikan kewarganegaraan yang demokratis pada pendidikan dasar dan menengah dilandasi dengan prinsip atau non-statutory atau tidak digariskan secara formal yang doirganisasikan secara terpadu atau integrated dalam mata pelajaran lain yang relevan.
Di Pakistan mengakui peran penting civics education dalam pembentukan warga Negara yang patriotik. Secara paradoksal, sebagaimana kurikulum civics education di sekolah-sekolah pemerintahan yang menekankan pembentukan sebuah identitas warga Negara muslim ia juga telah menghindari transmisi nilai-nilai universal demokrasi seperti kebebasan individu, kesetaraan jender, pemikiran kritis dan menghormati keragaman agama dan cultural. Feodalisme di Pakistan menjadi salah satu factor yang menghalangi transmisi nilai-nilai demokrasi dalam kurikulum civic education sehingga menjadikannya tatanan social feodal. Kurikulum PKn telah menjadi arena persaingan antara kelompok teokratis dan demokrasi-liberal.
            Di Perancis kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran atau materi civics yang dikaitkan dengan history and geography untuk pendidikan dasar dan menengah dilandasi dengan prinsip statutory core atau digariskan secara formal yang diorganisasikan secara terpisah atau separate dan terpadu atau integrated dengan beban belajar 3 – 4 jam pelajaran di luar jam pelajaran wajib.
            Di Jerman kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran Social Studies dengan inti pengembangan kewarganegaraan yang demokratis yang dikaitkan dengan history, geography, and economics untuk pendidikan dasar dan menengah ditandai dengan prinsip Non –Statutory atau tidak digariskan secara formal yang diorganisasikan secara integrated atau terpadu.
            Di Hongaria kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran People and Society with specific social studies, civics and economics courses yang semuanya bermuatan pendidikan kewarganegaraan untuk pendidikan dasar dan menengah dilandasi dengan prinsip Statutor atau digariskan secara formal yang pembelajarannya diorganisasikan sebagai core integrated and specific atau khusus terintegrasi sebagai materi inti dengan beban belajar 10-14 dari total waktu pembelajaran wajib.
            Di Italia kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran Civics yang dikaitkan dengan history and geography untuk pendidikan dasar dan menengah dilandasi dengan prinsip statutory core atau diwajibkan sebagai materi inti yang diorganisasikan secara separate atau terpisah dan integrated atau terpadu, dengan beban belajar 4 jam per minggu.
            Di Negeri Belanda  kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran  Civics and Citizenship and social studies dilandasi dengan prinsip statutory core atau materi inti yang digariskan secara formal, jadi bersifat wajib yang diorganisasikan secara integrated atau terpadu dengan beban belajar 180 jam pelajaran selama 3 tahun untuk sekolah dasar dan sekolah menengah pertama (usia 12-15) dan untuk sekolah menengah ( usia 16-18).
            Di Cina tidak ada sebutan khusus “pendidikan kewarganegaraan” (civics education). PKn khas Cina terletak secara melekat (inherent) dalam bentuk pendidikan moral. Pendidikan moral selalu berkaitan erat dengan politik di Cina. Secara etimologis di Cina pendidikan moral menjadi sesuatu yang esensial sebagai alat sosialisasi politik, dalam mentransmisikan nilai-nilai ideology dan politik tidak hanya kepada para siswa tetapi juga untuk masyarakat luas.
            Di Spanyol kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran Civics yang dikaitkan dengan history, geography and social science dilandasi dengan prinsip non-statutory tidak digariskan secara resmi yang diorganisasikan secara separate atau terpisah dengan beban belajar 3 jam pelajaran perminggu.
            Di Swedia kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran Social Science yang mencakup mata pelajaran history, geography and social studies dilandasi dengan prinsip Non-core atau bukan sebagai materi kurikulum inti yang diorganisasikan secara integrated atau terpadu dengan beban belajar 885 jam pelajaran selama 9 tahun wajib belajar di Swedia.
            Di Swiss kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran Social Studies bersifat tidak digariskan secara formal atau Non-statutory yang diorganisasikan secara terpadu atau Integrated.
            Di USA untuk sampel Negara bagian Kentucky kerangka dasar kurikulum dan beban belajar mata pelajaran Social Studies yang mencakup civics and government dilandasi dengan prinsip statutory core atau digariskan secara formal sebagai materi kurikulum inti yang diorganisasikan secara separate atau terpisah dan secara integrated atau terpadu dengan beban belajar per minggu bervariasi antarsekolah, sekitar 10-14 % dari keseluruhan beban belajar.
            Landasan dikembangkannya PKn di Indonsia adalah idealism pembentukan  watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangkan mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menjadikan manusia sebagai warga Negara yang demokratis dan bertanggung jawab secara filosofis, sosio-politis dan psikopedagogis. Kerangka sistemik PKn dibangun atas dasar paradigm bahwa PKn secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk mengembangkan potensi individu agar menjadi warga Negara Indonesia berakhlak mulia, cerdas, partisipatif, dan bertanggung jawab ; secara teoritik  dirancang sebagai subjek pembelajaran yang memuat dimensi kognitif, afektif dan psikomotor yang bersifat konfluen  atau saling berpenetrasi dan terintegrasi dalam  konteks substansi id, nilai, konsep, dan moral Pancasila Kewarganegaraan yang demokratis dan bela Negara ; secara pragmatik dirancang sebagai subjek pembejalaran yang menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai dan pengalaman belajar dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

DAFTAR PUSTAKA
Winataputra, U.S dan Budimansyah, D. (2007). Civic Education. Konteks, Landasan, Bahan Ajar dan Kultur Kelas. Bandung. Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan SPs UPI